Harga Rokok Harus Mahal.

Bersama beberapa teman Komunitas Sahabat Blogger, saya menghadiri Talk Show undangan dari Bu Sumiyati sebagai founder Komunitas Sahabat Blogger. Selasa 14 Agustus, 2018. Dengan tema “Jauhkan kelompok Rentan dari Rokok”. Talkshow Ruang Publik KBR Serial Rokok Harus Mahal di Hotel Cemara, Menteng, Jakarta Pusat.

Yang juga bisa didengar di 104 radio jaringan KBR, di Jakarta bisa disimak di Power Radio 89,2 FM, di Bandung bisa di Radio Garuda 105.5 FM, di Indramayu di Radio KC10, 87.9 FM dan di Salatiga bisa disimak melalui Radio Elisa 103.9 FM. Bisa juga menyimak melalui aplikasi KBR Radio di Android dan iOS, fan page Kantor Berita Radio KBR.

Acara ini diselenggarakan untuk mengingatkan bagaimana harga rokok yang murah membuat konsumsi rokok makin mudah, termasuk juga pada anak-anak dan keluarga miskin.

Pemerintah mengupayakan bagaimana untuk menurunkan konsumsi rokok dikalangan masyarakat, terkhusus masyarakat miskin. Pagi itu menghadirkan nara sumber :

  1. Dr. Abdillah Ahsan, Wakil kepala Pusat Ekonomi dan Bisnis Syariah FEB UI
  2. Dr Arum Atmawikarta, MPH, Manager Pilar Pembangunan Sosial Sekretariat SDGs Bappenas.

Pertanyaan dimulai kepada Pak Arum, dengan kelompok rentan itu seperti apa? Pak Arum menjelaskan bahwa kelomopok rentan itu bisa dilihat dari kesehatannya. Seperti bayi, balita, ibu hamil, ibu menyusui, dan penderita penyakit. Tapi dalam kelompok rentan yang paling luas lagi, kelompok yang miskin. Yaitu yang berpendapatan rendah, yang mana jumlahnya pada hasil survei BPS yang baru saja diumumkan itu sekitar 9,7 %, itulah kelompok rentan yang perlu kita lindungi. Dan juga kelompok marginal lain yaitu yang tinggal di daerah-daerah yang memang sulit dan terpencil, itulah daerah yang banyak kelompok rentannya.

Lalu dijelaskan kenapa kelompok rentan harus dijauhi dari rokok. Yang pertama, data BPS itu secara konsisten menunjukan bahwa pengeluaran dari kelompok penduduk miskin untuk rokok itu besar sekali. Mereka mengeluarkan banyak sekali pengeluaran untuk membeli rokok setelah beras. Itu konsisten dari sejak tahu 2004, sampai yang terbaru tahun 2018. Setelah beras itu urutannya adalah rokok. Dan itu lebih kecil dari pengeluaran keluarga, misalnya untuk kesehatan, ataukah untuk pendidikan, untuk pengeluaran yang lainnya. Jadi, sesudah beras, rokok.

Selain itu juga Pak Arum menjelaskan. Berdasarkan data yang diamati terus dari yang Susenas sampai sekarang itu, kalau untuk beras, pengeluarannya itu sekitar 22%, dan rokok itu sekitar 12-17%. Setelah itu baru pendidikan, sekitar 3%, kemudian untuk kesehatan sekitar 3%. Jadi artinya ibu-ibu atau keluarga itu membelanjakan lebih banyak rokoknya daripada memberikan makanan yang lebih baik kepada bayi-bayinya atau balitanya, maupun untuk pendidikan anak-anaknya itu.

Usaha pemerintah untuk masalah rokok, dengan menaikkan harga rokok dan mempersulit aksesnya untuk didapatkan. Karena peningkatan konsumsi rokok, sudah sangat memprihatinkan. Selain masyarakat miskin, pemerintah juga memikirkan anak – anak sekolah banyak yang sudah merokok. Saya juga  prihatin dengan kondisi ini. Karena rokok bisa menyebabkan candu untuk terus merokok. Akan berkelanjutan sampai usia dewasa, bahkan tua.  .

Pak Arum juga menjelaskan bahaya merokok. Tapi kesadaran dari mereka dan iklan rokok yang menarik.  Seperti lebih gaul, kreatif dan aktif. Membuat konsumsi rokok terus meningkat. Ditambah akses yang mudah didapatkan. Dari tempat menjual dan harga. Dari segi harga, rokok juga mudah didapati dengan harga perbatang. Membeli dengan cara ketengan. Anak-anak sekolah juga bisa membelinya. Uang saku dari orangtua bisa untuk membeli rokok.

Pak Abdillah juga menjelaskan usaha lainnya adalah berupaya untuk menurunkan konsumsi rokok. Kalau untuk melarang produksi rokok, tidak bisa. Karena dari International prepektif, bahwa tidak ada orang yang melarang produksi rokok itu tidak ada. Karena memang sudah terlanjur besar produksi rokoknya itu. Produksi rokok itu sudah tinggi di beberapa negara.  Dampak buruknya baru terasa setelah lama produksi, sehingga kalau mau dilarang sudah telat.

Yang dilakukan  saat ini adalah dengan mengendalikan, menurunkan konsumsi rokok dengan berbagai kebijakan. Yang pertama adalah menaikan harga cukai rokok, agar rokok bisa mahal dan susah terjangkau oleh anak SD, orang miskin, dan uangnya bisa digunakan untuk membeli hal-hal lain yang lebih bermanfaat.

Untuk bapak-bapak dan ibu agar lebih peduli dengan kesehatan. Terutama Bapak yang menjadi pencari nafkah untuk keluarga. Disarankan agar berhenti merokok, dan uangnya digunakan untuk meningkatkan gizi anaknya, keluarganya. Sebagai seorang muslim, Pak Abdillah, merokok itu tidak islami. Lebih baik uangnya untuk sodaqoh, untuk hal bermanfaat lainnya.

Disisi lain. Penurunan konsumsi rokok, bisa merambat ke tenaga kerja yang bekerja di perusahaan rokok. Rokok ada dua jenis. Yang dibuat dengan mesin dan tangan. Rokok buatan mesin, lebih laku dari buatan tangan.

Dampak dari kenikan harga rokok, bisa  mempengaruhi tenaga kerja dan petani tembakau. Ini harus ditangani bersama-sama oleh Kementerian-Kementerian lain yang terkait. Selain tenaga kerja di perusahaan rokok, permintaan terhadap akan penurunan. Kalau itu terjadi,  maka Kementerian Pertanian harus mencari solusi. Kalau ada penurunan tenaga kerja di rokok kretek tangan walaupun bukan gara-gara pengendalian rokok tapi karena  pabriknya memang ingin pindah ke mesin. Maka Kemenaker dan Kementerian Industri mencarikan solusi bersama-sama. Cukai rokok yang tinggi, mencapai 150 Triliun, jangan sampai membuat terlena. Harga rokok murah dan akses yang mudah. Membuat penurunan konsumsi rokok, bukan hal yang mudah. Padahal negatif dari rokok luar biasa.

Beberapa korban dari rokok. Juga memberi kesaksian bahaya dari rokok. Dari dampak perokok pasif sampai yang aktif.

Bahaya dari  rokok. Dari yang tidak bisa bersuara karena pita suaranya rusak. Tenggorokan harus dilubangi. Dan masih pakai alat bantu untuk bernafas.

Polemik rokok ini jadi dilema. Disatu sisi membuka lapangan kerja. Disatu sisi merusak kesehatan. Tapi ditegaskan kalau yang diuntungkan itu sebenarnya para pengusaha kaya. Karena kebanyakan sekarang memakai rokok mesin daripada rokok tangan.

Semoga segala usaha pemerintah untuk mengurangi penurunan rokok dapat menghasilkan yang baik untuk segala pihak. Karena bagaimana pun. Kesehatan adalah yang utama. Apalagi untuk generasi muda dan masa depannya. Harga rokok harus mahal adalah upaya pemerintah untuk mengatasi tingginya konsumsi rokok. Lebh baik pengeluaran uang untuk hal yang bermanfaat dan untuk kesehatan.

-Syakrey –

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *