Prau, Negeri di Atas Awan

Prau, Negeri di Atas Awan, julukan itu terasa pas untuk menggambarkan keindahan yang tersaji di puncak Gunung Prau. Pertama kalinya saya menginjakkan kaki di puncak Prau, dan saya disajikan pemandangan menakjubkan.

Saya tidak tahu, perasaan apa yang saya rasakan. Bisa jadi luar bisa, tidak percaya, dan akhirnya. Bagi sebagian orang, mendaki adalah hal yang biasa. Perasaan yang membumi, menikmati ciptaan-Nya. Begitulah  Pendapat dan komentar tentang asik dan luar biasanya mendaki gunung, menjadi cerita sendiri bagi yang hobi mendaki.

Tapi tidak bagi saya. Mau seindah dan semenarik apapun cerita tentang mendaki gunung. Hanya sekelabat saja di permukaan, tidak sampai ke hati dan tidak membuat saya tertarik. Karena bagi saya, jalan- jalan untuk kesenangan bukan untuk susah. Saya sudah membayangkan betapa susahnya medan yang akan ditempuh untuk mendaki gunung, hingga sampai ke puncaknya.

Tapi, kita tidak pernah tahu apa yang terjadi esok, termasuk perubahan apa. Saya yang sangat menolak dengan jalan- jalan ala backpacker, atau ngetrip ke tempat yang harus susah dan bikin lelah, biasanya menolak. Tapi entah kenapa, ketika sahabat tercinta saya mengajak mendaki ke Gunung Prau, saya antusias sekali ingin ikut walau agak deg degan, meyakinkan diri. Dan akhirnya mendakilah saya di Gunung Prau, pada tanggal 14 Mei 2015.

Baca Juga: Senam Sehat di Taman Allianz Ecopark

Sebetulnya saya dan teman- teman, sekitar enam belas orang yang ke sana. Tapi tidak semua bersama perginya. Saya dan dua orang teman menggunakan Bus ke sana, karena tiket keretanya sudah kehabisan, sedang yang lain menggunakan kereta ekonomi. Kita bertemu di terminal Bis Purwokerto.

Setelah semuanya berkumpul di terminal Purwokerto, lalu lanjut menyewa bus tiga perempat untuk mengantar kita ke Dieng.

Setelah sampai di sana, kami semua ke basecamp dulu, sebelum naik ke atas. Setelah perlengkapan siap dan kami semua siap, dan diberi arahan oleh ketua kelompok kami, secara sebagian besar dari kami ini para pemula dalam mendaki, termasuk saya.

Kami melewati jalur pendakian Patak Banteng, untuk naiknya. Kata teman saya, jalur ini, jalur yang paling dipilih untuk mendaki, selain cepat, banyak pemandangan yang dilihat. Kami semua melewati trek tangga menuju perkebunan. Setelah itu kami melewati jalur batu. Walau jalur ini sudah rapi, tapi lumayan bikin tenaga keluar banyak, setelah sebelumnya juga merasakan yang sama ketika naik tangga. Lalu kami menemui plang bertuliskan pos satu, Sikut Dewo.

Kami mendaki dengan jalan yang santai, agar tidak terlalu merasakan lelah, karena jalanan yang menanjak dan lumayan terjal bagi kami yang masih pemula. Beberapa teman kami yang memang pendaki dengan sabar kami yang kebanyakan perempuan. Waktu mendaki seharusnya tiga jam hingga ke puncak, tapi jadi molor sampai beberapa jam. Kebanyakan istirahatnya soalnya, maklumlah pemula.. he he

Lalu lanjut ke pos dua, Canggal Walangan. Menuju pos dua, kami melewati jalur perkebunan yang lumayan menanjak. Setelah melewati jalur yang lumayan menanjak dan mampir ke tempat beberapa warung-warung yang menjual makanan. Minuman teh hangat dan gorengan, lumayan buat kita kembali semangat naik. Lanjut ke pos tiga, Cacingan. Lalu lanjut menuju puncak. Untuk mencapai ini, suasana sehabis hujan.

Baca Juga: Semua Tentang Kita adalah Persahabatan

Dingin serta becek serta gelapnya malam membuat kami agak kesusahan, dan beberapa kali sempat tergelincir. Saya dan teman yang juga perempuan memilih berjalan merangkak, karena khawatir terpeleset dan meluncur ke bawah. Tapi yang tidak bisa kami lupakan adalah di sinilah terasa kebersamaan dan rasa peduli sesama pendaki.

Walau kami dari kelompok yang berbeda, karena saya dan teman yang lain sempat terpisah satu sama lain. Ada yang masih menemani teman yang sempat mengalami kaki kram atau kakinya yang kelelahan. Sedangkan yang merasa sanggup terus melanjutkan pendakian.

Para pendaki yang baru kami kenal, dengan senang hati menjaga kami dan membantu kami saat kami kesusahan untuk menuju jalan ke puncak. Hingga akhirnya saya dan beberapa teman saya. Sekitar jam 10, kami sampai di puncak. Saya yang tidak kuat dengan dingin, menggigil hebat. Hingga beberapa teman perempuan memeluk saya, itu salah satu cara pertolongan, agar menghindari Hiportemia. Hiportemia adalah suatu keadaan dimana tubuh terasa sangat kedinginan.

Sambil tenda dipasang, saya terus ditemai teman saya. Setelah tenda dipasang, saya lalu diminta masuk, diselimuti, jaket sampai dobel. Sungguh saya sangat terharu dengan sikap tanggap mereka. Karena saya diawal bilang, kalau saya paling tidak kuat dingin apalagi di puncak gunung, tentu lebih dingin.

Dan akhirnya setelah makanan siap, saya makan agar perut terisi, bisa mengurangi dingin. Lalu yang lain ada yang memilih tidur atau diam di tenda setelah shalat isya, karena suasana yang sangat dingin. Ada juga yang memilih di luar bergabung dengan pendaki yang lain.

Paginya, setelah shalat shubuh, kami menikmati indahnya ciptaan-Nya. Pemandangan yang Indah. Dari puncak Gunung Prau, kita dapat melihat pemandangan Gunung Sindoro dan Sumbing. Pemandangan yang sangat indah, pertama kali dalam hidup saya merasakan puncak gunung. Prau, benar-benar negeri di atas awan. Saya benar-benar tidak percaya, saya mendaki gunung, hal yang tidak pernah saya pikirkan dan saya impikan. Tapi saya bisa merasakan indahnya pemandangan di atas gunung. Inilah yang membuat para pendaki itu begitu semangat dan selalu ingin kembali mendaki, dalam hati saya berkata.

Baca Juga: Cemburu

Setelah menikmati suasana di atas puncak. Dan makan bersama, karena kami ngecamp. Kami bersiap untuk turun. Tapi turunnya melewati jalan Dieng. Melewati bukit Teletubies. Disebut bukit teletubies, karena bukitnya mirip dengan di film Teletubies. Turunnya lumayan lebih lama daripada naiknya, karena jalannya memutar. Lumayan susah juga karena melewati jalan setapak. Tapi kami melewati taman bunga yang cantik. Hingga sampailah kami ke bawah.

Prau, Negeri di Atas Awan - syakrey.com (1)
pemandangan dari puncak Sikunir

keesokan harinya, lanjut ke Sikunir, meihat sunrise. Jalan menuju puncak Sikunir, lumayan jauh dan tinggi. Sama capeknya. Tapi itu semua terbayar dengan melihat pemandangan di puncak Sikunir. Subhanallah, cantik sekali, pemandangan di pagi hari. Kami berangkat dari penginapan jam empat dinihari agar bisa mengejar melihat sunrise.

Prau, Negeri di Atas Awan - syakrey.com (2)
Hidup adalah sebuah perjalanan. Perjalanan menapaki cerita meninggalkan kenangan.. Kenangan di Prau..
Prau, Negeri di Atas Awan - syakrey.com (3)
sunrise dari puncak Sikunir.

Prau, sang Negeri di Atas Awan, adalah pendakian pertama, karena selanjutnya akan ada pendakian gunung yang lain bersama teman-teman. Dan saya mulai mencintai mendaki gunung. Rencananya teman-teman saya bukan hanya mendaki dan ngetrip, tapi juga mengadakan kegiatan sosialSelanjutnya akan ada pendakian ke gunung yang lain.

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sorry :D