Cemburu

Cemburu. Kayaknya sudah banyak yang tahu tentang cemburu. Saya  juga sering mendengar kata itu. Walau saya pernah menjalin hubungan serius dua kali, tapi saya tidak pernah tahu rasa cemburu itu bagaimana.

Tapi saya pernah merasakan dicemburui oleh perempuan yang akhirnya jadi pasangan lelaki yang pernah jadi kekasih saya. (Baku ya kata-katanya. Saya biasa menyebut pacar.. xi xi xi).

Awalnya saya bingung. Ini orang kenapa. Kan yang hadir di hubungan kami ya, perempuan ini. Dan akhirnya saya memutuskan pergi juga karena perempuan ini. Kok sekarang jadi merasa saya akan merusak hubungannya dia dan lelaki yang pernah jadi kekasih saya.

Saya berusaha untuk tidak ikut terbawa ribut dengan gaya cemburunya.  Lelaki yang pernah jadi pacar saya pun juga jadi tidak enak hati. Apalagi dia memang merasa pisahnya kami karena dia yang menghadirkan perempuan itu. Tapi saya menganggap inilah jawaban dari Tuhan karena permasalahan perbedaan agama antara kami.

Baca juga: Senam Sehat di Allianz Ecopark

Saya berusaha tenang menerima ini semua. Dan kami tetap menjalin hubungan baik. Apalagi karena hubungan kami yang sudah lama dan dalam. Kedekatan dengan keluarganya dan teman-temannya juga tetap terjalin dengan baik walau kami sudah tidak ada hubungan kekasih lagi.

Tapi rupanya perempuan itu tidak terima. Tidak suka. Apalagi beberapa teman dan keluarganya sering membandingkan dia dan saya. Intinya mereka lebih suka kalau saya dan lelaki itu tetap jadi pasangan daripada perempuan itu. Tapi saya tidak membawa ke hati. Masa sekarang adalah perempuan itu yang jadi kekasihnya. Jadi saya sangat membatasi diri, hanya sebatas hubungan baik dan tidak menanggapi komentar tentang sayangnya hubungan kami yang akhirnya pisah.

Cemburunya sangat membuat saya tidak nyaman. Dari meneror saya lewat handphone dengan kata-kata yang tidak enak. Sampai dia minta saya menjauhi mantan kekasih saya dan tidak boleh gabung kalau ada kumpul-kumpul lagi.

Saya memilih untuk memberitahu semua ke lelaki itu. Bukan apa, saya hanya takut jadi tidak sabar dan menyerang balik. Tapi saya tetap berusaha berpikir positif bahwa ini adalah reaksi cemburunya dia. Padahal andai dia tahu, saya tidak akan balik lagi kok dengan lelaki itu. Saya merasa ini adalah jawaban Tuhan atas permasalah kami selama ini. Walau saya pastilah mengalami masa sedih dan kehilangan, tapi saya sudah melewati dan bisa menerimanya dengan lapang hati.

Lelaki itu yang akhirnya jadi penengah. Tapi pada akhirnya saya pun memilih menjauh. Walau dulu kami pernah berjanji bahwa kalaupun pisah, tetap menjalin hubungan baik dan akan tetap baik walau tidak menikah. Tapi kenyataan tidak selalu sesuai harapan. Saya menerima dengan tenang untuk menjauh agar suasana tenang dan saya pun nyaman. Sebenarnya lelaki itu tidak setuju saya menjauh, tapi saya tetap memilih menjauh. Malas jadi ribut hanya kerena laki-laki.

Baca Juga: Rambut Cantik dan Sehat ala Natur

Bahkan sampai menikah pun, dia tetap benci saya. Kalau ada acara yang membuat kami bertemu, saya atur agar tidak ketemu. saya tidak nyaman dengan rasa cemburunya. Padahal saat itu saya sudah punya hubungan baru  dan perempuan itu tahu, tapi kembali saya harus bersedih karena tidak berjodoh.

Lama kelamaan saya mulai terbiasa dengan cemburunya. Toh saya memang tidak ada niat buruk. Dan saya memilih untuk sama sekali tidak berteman dengan lelaki yang akhirnya jadi suaminya.

Hingga, saya menjalin hubungan baru dan saya sangat mencintai lelaki ini. Tapi belakangan terdengar kabar dia punya hubungan dengan perempan lain dan berniat ingin menikah dengan perempuan itu. tapi perempuan itu akhirnya menikah dengan lelaki lain.

Tapi ketika saya konfirmasi, dia menyangkal semua berita itu. Tapi saya merasakan berita itu benar. Dan beberapa kali dia menunjukkan perhatiannya kepada perempuan itu. Walau sudah menikah, mereka tetap menjalin komunikasi. Bahkan lelaki itu membuat pengakuan kalau menjelang menikah, dia menemani perempuan itu ke kampungnya dan kenal dengan keluarganya.

Awalnya saya bertahan untuk tetap mencintainya mempertahankan perasaan ini. Tapi pada akhirnya saya memilih pergi. Saya tidak mau jadi orang yang jahat karena cemburu. Karena saya sudah mulai merasakan kalau saya jadi perempuan yang sinis kepadanya.  Saya jadi ingat perempuan yang begitu membenci saya karena cemburu. Oh jadi ini toh rasa cemburu itu.

Cemburu. ya, cemburu yang membuat orang jadi berbeda, salah satunya jadi galak dengan orang yang membuat kita cemburu. Tapi saya tidak suka dengan perasaan itu.   Cemburu hanya membuat saya jadi jahat. Suatu saat pasti seseorang yang Tuhan hadirkan untuk saya, melanjutkan hidup dengan hubungan yang halal yaitu pernikahan, tanpa sempat saya merasakan cemburu lagi karena dia fokus hanya dengan saya.

Catatan pagi saya di Minggu pagi ini. Tentang cemburu.

– Syakrey

Bagikan

Satu tanggapan untuk “Cemburu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sorry :D